登入センチネルとガイド。超能力者とその調整者。 国家に管理され、月に一度の調整セッションを義務付けられる。それが、御厨リョウと氷堂カイトの出会いだった。 触れることを嫌うリョウ。しかし、カイトに触れた瞬間、世界が変わった。 月一度の調整は、やがて毎日に。二人の境界は溶け、魂が混じり合っていく。これは「ボンディング」――法律で禁止された、魂の結合。発覚すれば、強制分離。あるいは、処刑。 「君を離さない」 カイトの執着は、愛か。それとも依存か。 「あなたなしでは、生きられない」 リョウの告白は、真実か。それとも洗脳か。 触れれば生きられる。離れれば死ぬ。これは、究極の愛の物語。
查看更多Alexa menatap bayangan dirinya di depan cermin. Sungguh ia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Seorang gadis berkebaya kutu baru bermata bulat, balas menatapnya tajam. Dirinya berkebaya saudara-saudara!
Jikalau tidak karena harus berperan sebagai Jamilah Binti Surip, mungkin seumur hidup ia tidak akan pernah mengenakan pakaian gadis desa seperti ini. Bayangkan ia yang sehari-hari mengenakan ripped jeans dan jaket kulit, tiba-tiba harus berkain kebaya seperti ini. Tadi saja, ia nyaris terjungkal karena keserimpet kain panjang. Ia jadi tidak bisa berjalan cepat, karena kainnya ini membatasi gerakannya.
Rambutnya yang sudah mulai panjang, juga membuatny gerah. Sebenarnya kemarin ia sudah ingin memotongnya dengan model cepak seperti biasanya. Namun papanya melarang. Menurut papanya, penampilannya harus all out saat berperan sebagai cucu Mbok Sari. Mana ada cucu seorang ART yang anggun dan kemayu, punya cucu seperti seorang premanwati?
"Lexa! Mau berapa lama lagi kamu di dalam sana hah?!" Teriakan papanya membuat Alexa dengan cepat meraih koper. Ia sangat mengenal karakter papanya. Jika ia tidak keluar dalam tiga menit, bisa dipastikan pintu kamarnya hanya akan tinggal engselnya saja. Sudahlah, tidak apa-apa hari ini ia berpenampilan sebagai gadis desa. Toh besok lusa ia akan bisa berpenampilan seperti biasanya. Kopernya ini sudah penuh dengan segala atribut dan pakaian kebesarannya.
"Iya, Pa. Lexa sudah selesai kok." Seraya menggeret kopernya ia melangkah ke ruang tamu. Tampak papa, mama, serta Xander kakaknya, telah duduk di sofa. Sementara Mbok Sari dan Pak Hamid duduk di hadapan mereka.
"Nah Pak Hamid, Mbok Sari, Alexa sudah datang. Waktunya berangkat." Axel beringsut dari sofa diikuti oleh istri dan putra sulungnya. Begitu juga dengan Pak Hamid dan Mbok Sari. Sepasang suami istri yang sudah mengabdi puluhan tahun bersama keluarganya. Bahkan sebelum kedua orang tuanya terbunuh.
Ia ingat sekali. Bagaimana Pak Hamid dan Mbok Sari yang pada waktu itu baru menikah, terus membesarkan hatinya saat kedua orang tuanya dimakamkan. Selain Bang Gultom alhamrhum, Pak Hamidlah orang yang paling lama mengabdi padanya. Disusul dengan Mang Tisna, Beli Made, Bang Raju dan Erick. Pak Hamid adalah seorang supir. Sementara lima orang terakhir itu adalah para bodyguardnya. Kempatnya juga telah pensiun karena usia, dan hidup dengan keluarga masing-maaing. Hanya saja, Erick yang usianya lebih muda, sesekali masih berkunjung untuk memberi pelatihan pada pengawal-pengawal baru.
Daddynya, Pierre Delacroix Adams, adalah seorang mafia yang sangat ditakuti di masanya. Sementara mommynya, Aimee Delacroix Adams, adalah seorang istri yang sangat mencintai dan setia sampai akhir pada daddynya. Dan sudah tentu daddynya memiliki banyak bodyguards untuk melindungi dirinya dari musuh-musuhnya. Namun siapa menyangka kalau nyawa kedua orang tuanya malah, melayang di tangan adik angkat mereka sendiri. Texas Delacroix Bimantara. Om sekaligus ayah kandungnya. Kisah cinta bersegi-segi antara daddy, mommy dan omnya telah menumpahkan darah dan dendam. Namun semua itu kini telah berlalu. Satu hal yang pasti, ia tetap memakai nama belakang Delacroix Adams. Bukan Delacroix Bimantara. Karena baginya Pierre adalah ayahnya. Texas hanyalah ayah biologisnya.
Setelah menjadi yatim piatu pada usia dua belas tahun, dengan Lily, adiknya yang masih berseragam SD, Pak Hamid dan kelima bodyguards ayahnya inilah yang menjaganya. Membentuk pribadinya agar kuat, dengan mental yang tak mudah patah. Mereka semua adalah pengganti orang tua baginya dan Lily kala itu.
Kini saat ia harus melepas Mbok Sari dan Pak Hamid, yang telah ia anggap seperti keluarganya sendiri, Axel merasa matanya berair. Namun ia harus. Karena keduanya telah semakin menua dan mereka ingin kembali ke kampung halaman. Menghabiskan masa tua dan sisa hidup di sana. Dekat dengan keluarga dan sanak saudara.
"Pak Hamid, Mbok Sari. Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas pengabdian Pak Hamid dan Mbok Sari selama ini. Terima kasih atas waktu dan tenaga yang telah Pak Hamid dan Mbok Sari curahkan selama ini kepada keluarga saya."
"Sama-sama, Den Axel. Saya dan Si Mbok juga mengucapkan terima kasih. Karena telah diberi banyak sekali kemudahan selama kami bekerja di sini. Kami telah digaji lebih dari cukup. Diberikan rumah, dan sebidang tanah yang luas untuk hari tua, serta membiayai pendidikan putra putri kami hingga menjadi sarjana di Jakarta. Bahkan sampai membuat anak-anak kami hidup mapan di ibukota ini." Pak Hamid juga menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Sama-sama, Pak. Baiklah. Sekarang saya titipkan Alexa, di kampung halaman Bapak untuk memperbaiki segala kecerobohannya. Saya harap Pak Hamid dan Mbok Sari bisa mendidik Lexa, seperti Pak Hamid dan Mbok Sari dulu mendidik saya dan Lily dulu. Agar Lexa bisa belajar dari semua kesalahannya. Titip Lexa, ya Pak, Mbok? Saya titipkan buah hati saya pada kalian berdua."
Axel menyalami dan memeluk Pak Hamid untuk terakhir kalinya. Ia sadar, bisa saja ini adalah pertemuan mereka terakhir kalinya, karena masalah usia. Setelahnya ia menyalami Mbok Sari.
Kemudian berturut-turut istrinya Raline yang menyalami sembari menangis sedih. Raline pasti berat ditinggalkan oleh mereka berdua. Xander putranya menyusul setelahnya.
"Dan kamu Lexa, turuti apa yang dikatakan oleh Pak Hamid dan Mbok Sari. Ingat, mulai hari ini namamu adalah Jamilah Binti Surip. Anak dari Surip. Putra sulung Pak Hamid dan Mbok Sari."
"Iya, Pa," jawab Alexa takzim.
"Ingat juga, kamu akan tinggal setahun penuh di sana. Tanpa uang saku sepeser pun dari Papa. Kamu akan diberi makan tiga kali sehari oleh Mbok Sari. Setelah itu kamu harus mencari uang saku sendiri. Kalau kamu curang, Papa akan menambahi waktu hukumanmu."
"Siap, Pa!" Alexa mengeraskan suaranya.
"Kamu hanya akan bebas dari hukuman, dengan dua syarat. Menjalani hukumanmu selama setahun penuh, atau kalau ada laki-laki bernyali yang berani melamarmu pada Papa. Itu pun kalau laki-laki itu mampu mengalahkan Papa dan kakakmu di Alcatraz. Kalau dia kalah. Maka dia tidak pantas menjadi menantu Papa. Jelas, Lexa?"
"Jelas, Pa!" Angguk Alexa patuh. Benaknya hanya memikirkan satu hal. Ia akan terdampar selama setahun penuh di Desa Pelem. Karena tidak mungkin ada pemuda setempat yang berani melamarnya. Lebih jauh lagi, mampu mengalahkan keganasan papa dan kakaknya di atas ring tinju.
"Kalau begitu, segeralah berangkat." Perintah Axel. Alexa memeluk mama dan kakaknya. Keduanya memintanya bersabar dalam menjalani hukum. Mereka juga mengatakan kalau waktu setahun itu tidak lama. Ya, memang tidak lama bagi orang yang tidak mengalaminya.
Alexa memandangi seantero rumah sebelum meraih kopernya. Hanya koper inilah hartanya saat ini. Semua uangnya dan fasilitas dari papanya telah dicabut.
"Tinggalkan kopermu, Lexa. Papa sudah mempersiapkan koper tersendiri untukmu. Isinya berbagai macam model kebaya sederhana. Seperti kebaya model kutu baru, kebaya encim dan yang lainnya. Koper barumu sudah ayah siapkan di bagasi mobil. Kamu tinggal bawa badan saja ke desa Pelem. Berangkatlah sekarang."
Selamat tinggal ripped jeans dan jaket-jaket kulit kesayanganku. Sabar ya, setahun lagi aku akan mengenakan kalian semua. Doa kan aku cepat pulang ya?
***
Mobil yang dikendarai oleh Mang Dadang melaju membelah kabut pagi yang masih menggantung di kaki bukit. Alexa menatap sawah-sawah dan tepi hutan yang silih berganti mereka lewati. Ia tidak yakin apakah ia akan betah tinggal di pedesaan seperti ini.
Mobil berjalan tenang dan kali ini mereka melewati perkebunan teh yang luas, dan entah perkebunan apalagi. Sebagai anak kota tentu saja ia tidak familiar dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Yang ia lihat hanyalah hamparan hijau yang indah seperti lukisan. Sesekali mobil mereka berpapasan dengan mobil lain dan ataupun truk yang lalu-lalang di jalan yang sama. Tak jarang juga bertemu dengan pesepeda, barisan sapi, kambing dan hewan-hewan ternak lainnya di sisi jalan.
Alexa menghela napas kasar. Ia tidak tahu, apakah ia akan betah tinggal di desa seperti ini. Jauh dari keluarganya lagi. Hingga di usianya yang menginjak dua puluh tiga tahun, ia tidak pernah tinggal terpisah dengan orang tuanya. Paling lama adalah seminggu. Itu pun dalam rangka liburan. Bagaimana ia mampu melewati setahun tanpa mereka bahkan di tempat yang asing pula?
"Rumah Mbok masih jauh tidak?" Alexa melayangkan pandangan pada Mbok Sari, yang tampak menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
"Sekitar setengah jam lagi, Non. Sabar ya? Nanti Non akan menikmati suasana yang berbeda. Udaranya juga masih bersih. Non pasti akan lebih sehat selama tinggal di sini. Percaya deh sama, Mbok."
Mbok Sari mengelus sayang bahu Alexa yang kini merebahkan kepala pada bahunya. Beginilah sifat Alexa bila tidak ada orang asing di sekitarnya. Kolokan dan manja. Inilah sebenarnya karakter aslinya. Penampilan kasar dan ala premannya, itu hanya tampilan luarnya. Wajar, jika melihat siapa ayah dan kakaknya. Alexa ini memang keturunan mafia dari sananya. Otomatis ia sudah dididik keras sedari lahir. Musuh-musuh warisan maupun musuh baru keluarganya, kerap muncul seperti bayangan. Dan ia harus siap siaga menerima serangan sewaktu- waktu.
"Lebih sehat sih pasti Mbok. Tapi kayaknya Lexa nggak betah tinggal di sini, Mbok. Sepanjang yang Lexa lihat hanya hamparan sawah-sawah, perkebunan dan peternakan. Mau ngapain Lexa di sini Mbok? Masa Lexa harus ngetrack dengan sapi?"
"Harus betah, Non. Ingat, tujuan utama Non ke sini untuk apa? Berapa lama? Setahun itu lama, Non. Kalau Non tidak bisa menyesuaikan diri, Non akan sengsara 365 hari lamanya. Oleh karena itu berdamailah dengan keadaan, Non. Tak kenal maka tak sayang."
Kalimat tanpa tedeng aling-aling Pak Hamid menggedor hatinya. Beginilah Pak Hamid. Ia selalu berbicara tepat pada sasaran. Ia mengamati, menelaah, baru ia akan berpendapat. Pak Hamid adalah salah satu supir yang paling dikagumi papanya. Makanya walaupun Pak Hamid sudah pensiun karena usia, papanya tetap mempertahankannya tinggal di rumah. Jasa Pak Hamid tiada terbayar oleh rupiah. Kecuali Pak Hamid sendiri yang ingin pulang seperti ini. Barulah papanya melepas dengan lega. Itu pun papanya akan memastikan kesejahteraanya di desa. Papanya tidak ingin para pahlawan masa lalunya kekurangan saat usia senja.
"Salah satunya adalah Non harus mencari kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan, sekaligus menghasilkan uang. Ingat kami tidak boleh memberikan Non apa-apa. Non harus berusaha sendiri."
"Iya, Pak. Tapi saya bisa kerja apa di sini? Sepanjang yang saya lihat hanya sawah, kebun, sekolah," keluh Alexa. Masa ia premanwati jadi guru? Apa pantes?
"Nanti Non akan saya kenalkan dengan Pak Gala. Dia petani dan peternak paling sukses di sini. Bahkan mungkin se nusantara. Bapak pernah melihat Pak Gala ini di televisi. Pak Gala memiliki kebun cabai dan bawang merah seluas
25 hektar di desa Pelem ini. Konon dalam dua kali masa panen, bisa mencapai 28 ribu ton untuk bawang merah. Dan 20 ribu ton untuk cabai merah. Non bisa bekerja di sana kalau Non mau?"
Apa? Jadi buruh kabar di perkebunan. Bah, yang benar saja!
"Lah, masa saya jadi buruh kasar sih, Pak? Mana pantas," Alexa manyun. Premanwati anak mafia Axel Delacroix Adams jadi buruh pemetik cabai merah. Harga diri oh harga diri.
"Kok tidak pantas? Di sini Non adalah cucu saya. Nama Non adalah Jamilah Bin Surip. Pendidikan Non hanya lulusan SMA. Non adalah cucu seorang supir dan pembantu di Jakarta. Tidak ada yang mengenal Alexandra Delacroix Adams di sini. Ingat, setelah Non sampai di rumah saya, saya dan Mbok Sari akan memanggilmu dengan sebutan Milah. Bukan Non Lexa lagi. Mengerti, Non?"
"Mengerti, Pak," jawab Lexa takzim. Ketegasan Pak Hamid dalam meminta jawaban itu sebelas dua belas dengan ayahnya. Di luar, ia memang premanwati. Tetapi bila di rumah, dan menghadapi orang yang lebih tua darinya, ia hanyalah seorang Alexa.
"Kalau Non nggak mau jadi buruh kebun, Non jadi pengajar saja di sekolah. Atau Non bisa menjadi tenaga pengajar di kampung Inggris," Mbok Sari yang merasa kasihan pada Alexa memberi pilihan lagi. Ia tidak seperti suaminya yang tegaan. Ia sudah menganggap Alexa seperti cucunya sendiri.
"Non juga nggak usah takut kesepian di sini. Walau di kampung, tapi di sini sudah ada mesin uang, restaurant, dan kafe-kafe. Cuma kalau ke mall aja yang agak jauh. Karena letaknya di kota Kediri. Sekitar satu jam kalau mau ke sana." Mbok Sari lagi-lagi mencoba membesarkan hati Alexa yang down.
"Mesin uang, restaurant, kafe, semuanya itu memakai uang, Bu. Non Lexa kan tidak punya uang. Makanya harus bekerja dulu, baru bisa menarik uang atau ke kafe dan mall." Bantahan dari Pak Hamid menyadarkan Alexa. Pak Hamid benar. Untuk menikmati itu semua ia harus punya uang. Sementara kantongnya saat ini kosong. Sekedar untuk membeli pulsa saja, ia tidak punya. Sepertinya ia memang harus bekerja.
"Iya, Pak. Lexa akan bekerja di kebun saja. Oh ya, Pak Gala ini usianya seperti papa atau Pak Hamid? Terus galak nggak, Pak? Namanya aja Gala. Jangan-jangan aki-aki ini orangnya gualak poll." Alexa manyun lagi. Bisa stress ia tiap hari dibentak aki-aki galak karena salah dalam bekerja.
"Pak Gala seusia dengan Xander, kakakmu. Tiga puluhan. Kalau masalah galak, kamu benar. Ia galak sekali sehingga dipanggil Pak Gala. Padahal namanya adalah Jenggala Buana Sagara. Keluarganya selalu memanggilnya Gara. Bapak mengenal Gala sedari kecil. Pak Sasongko, ayahnya adalah teman Bapak."
Matiii. Alamat sengsaralah ia setahun ini. Nasib... nasib...
それから六ヶ月が経った。 リョウとカイトは、バンコクの郊外に小さなアパートを借りて暮らしていた。 二人とも、偽名を使って生活していた。カイトは英語教師として、リョウは翻訳の仕事をしていた。 収入は多くなかった。しかし、二人には十分だった。 朝は一緒に起き、朝食を作り、仕事に出かける。 夜は一緒に夕食を食べ、映画を見たり本を読んだり、ただ抱き合っていたりする。 普通の、平凡な生活。 しかしリョウにとって、それは何よりも幸せな日々だった。「リョウ、買い物に行くぞ」 ある日曜日の朝、カイトが声をかけた。「はい、今行きます」 リョウは部屋を出て、カイトと手を繋いだ。 アパートの外に出ると、熱帯の太陽が照りつけていた。しかし、もう慣れた。 二人は市場に向かった。 色とりどりの果物、新鮮な魚、香辛料の匂い。タイの市場は、いつも活気に満ちていた。「今日は何を作る?」 カイトが尋ねた。「トムヤムクンにしましょう」 リョウは答えた。「あなたの好物ですから」「ありがとう」 カイトは微笑んだ。 二人は材料を買い、アパートに戻った。 そして、一緒に料理をした。 カイトが野菜を切り、リョウがスープを作る。 途中、カイトがリョウの腰を抱いた。「カイト、料理中ですよ」「分かってる」 カイトはリョウの首筋にキスをした。「でも、我慢できない」 リョウは笑った。 こんな日常が、こんなにも愛おしいとは。 かつては想像もできなかった。 夕食の後、二人はベランダに出た。 夕焼けが、空を染めていた。 リョウはカイトの肩に頭を預けた。「カイト」「何だ?」「幸せです」 リョウは呟
屋上での対峙から一週間が経った。 その間に、世界は大きく変わり始めていた。 リョウとカイトの映像は、瞬く間に世界中に拡散された。ソーシャルメディアでは、彼らを支持する声が圧倒的多数になった。「#FreedomToLove(愛する自由を)」というハッシュタグがトレンド入りした。世界中の人々が、リョウとカイトの物語に共感した。 そして、政治も動いた。 野党議員たちが、センチネル保護法の見直しを要求し始めた。与党内部でも、改正を求める声が上がった。 センチネル管理局は、世論の圧力に屈しつつあった。 しかし、リョウとカイトへの指名手配は、まだ解除されていなかった。 二人は、三島の手配した安全な場所――海沿いの古い民家に身を隠していた。「長くはもたないな」 カイトが言った。 二人は海を見ながら、並んで座っていた。波の音が、静かに響いていた。「どういう意味ですか?」「いずれ、センチネル管理局は俺たちを捕まえようとする」 カイトは説明した。「世論がどうであれ、法律が変わるまでは、俺たちは犯罪者だ」「でも、朝霧さんは撤退しました」「あれは、カメラがあったからだ」 カイトは首を横に振った。「次は、メディアのいない場所で襲ってくる」 リョウは不安を感じた。「なら、どうすれば……」「国外に逃げるしかない」 カイトは決断した。「センチネル保護法が施行されていない国に」「でも、それでは一生、日本に戻れません」「それでもいい」 カイトはリョウの手を取った。「君と一緒なら、どこでも生きていける」 リョウは考えた。 国を捨てる。家族を、友人を、すべてを捨てて、カイトと二人だけで生きていく。 それは、恐ろしいことだった。 しかし同時に、魅力的でもあった。
記事は、予想以上の反響を呼んだ。 翌朝、三島の記事はインターネット上で爆発的に拡散された。 『愛は罪か――ボンディングしたセンチネルとガイドの告白』 記事には、リョウとカイトのインタビューが詳細に掲載されていた。二人の写真も公開された。 ソーシャルメディアは、瞬く間にこの話題で溢れた。 賛否両論。 「彼らは何も悪くない。愛し合う権利は誰にでもある」 「いや、法律は法律だ。センチネルは国家の財産なのだから、管理されるべきだ」 「ボンディングの危険性を無視するな。一人が死ねば二人とも死ぬんだぞ」 「それでも、強制的に引き離すのは人権侵害だ」 議論は白熱した。 そして、センチネル管理局も動いた。「氷堂カイトと御厨リョウを、国家反逆罪で指名手配する」 局長の記者会見が、全国に放送された。「彼らは、センチネル保護法に違反しただけでなく、機密情報を漏洩した。これは、重大な犯罪である」 指名手配。 リョウとカイトは、正式に犯罪者とされた。「予想通りだな」 カイトは冷静に言った。 二人は三島の手配した隠れ家――廃墟となったホテルの一室にいた。「でも、世論は私たちに同情的です」 リョウはノートパソコンの画面を見ていた。「ソーシャルメディアでは、私たちを支持する声が多数です」「それでも、法律は変わらない」 カイトが窓の外を見た。「世論がどうであれ、俺たちは指名手配犯だ。捕まれば、処刑される」 リョウは唇を噛んだ。 記事の公表は、諸刃の剣だった。世論は味方についたが、同時に居場所も知られてしまった。 その時、カイトの表情が変わった。「来る」「え?」「執行部隊だ」 カイトは立ち上がった。「朝霧も、一緒だ」 リョウは窓から外を覗いた。
テレポーテーションの感覚は、溺れるようだった。 リョウの意識は引き伸ばされ、圧縮され、そして再構成された。吐き気と眩暈が同時に襲ってきて、リョウは気を失いかけた。 しかしカイトの腕が、しっかりとリョウを抱きしめていた。 その温もりだけが、リョウを現実に繋ぎ止めていた。 どれくらいの時間が経ったのか分からない。 気がつくと、リョウは固い地面の上に倒れていた。「リョウ」 カイトの声が聞こえた。「大丈夫か」「ええ……なんとか」 リョウは身体を起こし、周囲を見回した。 そこは、見知らぬ場所だった。 森。鬱蒼とした木々に囲まれた、人里離れた場所。空気が冷たく、澄んでいた。「ここは、どこですか?」「北海道だ」 カイトが答えた。「山奥の、誰も来ない場所」 北海道。東京から、千キロ以上離れた場所。「そんなに遠くまで……」「限界だった」 カイトは息を切らしていた。額に汗が滲んでいた。「これ以上遠くには、飛べない」 リョウはカイトの身体を支えた。カイトの身体が、熱を持っていた。「能力を使いすぎましたね」「ああ……でも、これで少しは時間が稼げる」 カイトは木に背中を預けた。「朝霧が追跡してきても、ここまで来るには時間がかかる」「でも、いずれは見つかる」「そうだ」 カイトは認めた。「俺の能力は、使えば使うほど追跡が容易になる。逃げれば逃げるほど、痕跡を残してしまう」 リョウは考えた。 このままでは、いずれ捕まる。時間の問題でしかない。「なら……」「なら?」「戦いましょう」 リョウは言い切った。
気がつくと、リョウは見知らぬ場所にいた。 古い日本家屋。畳の部屋。障子から差し込む柔らかな光。「ここは……」「俺の、隠れ家だ」 カイトの声がして、リョウは振り向いた。カイトは窓の外を見ていた。「山の中。最寄りの町まで車で一時間。センチネル管理局も、ここの存在は知らない」 リョウは身体を起こした。全身の力が抜けていたが、カイトが近くにいるおかげで症状は治まっていた。「どうやって、こんな場所を……」「三年前、
リョウは走った。 雨に打たれながら、息も絶え絶えに、ただ前へ。背後からは執行部隊の足音とサイレンの音が追いかけてくる。 スマートフォンがポケットの中で震えた。カイトからのメッセージだ。 『座標を送る。そこで待て』 画面に表示された地図を見て、リョウは方向を変えた。湾岸地区。あの日、カイトと初めて出会った場所の近くだ。 足が重かった。禁断症状による脱力感が、全身を支配している。カイトと離れて五日。リョウの身体は既に、限界を超えていた。 それでも走った。 廃ビルの影に身を隠し、追
それから二ヶ月間、リョウとカイトは奇妙な均衡状態を保っていた。 表向きは、センチネルとガイドのペア。調整セッションを定期的に行う、医療行為の関係。 しかし実際には、恋人同士と変わらない生活を送っていた。 朝は一緒に目を覚まし、朝食を共にする。カイトが任務に出る時は、リョウは彼の無事を祈る。夜は抱き合って眠る。 ただし、セックスだけはしなかった。 それが、二人の最後の防波堤だった。肉体関係を持たないことで、自分たちはまだ一線を越えていないと信じようとしていた。 しかし実際には、既にその一線など
調整の頻度が、また変わった。 二週間に一度だったものが、一週間に一度になった。さらに三か月後には、週に二度になった。 そして今、リョウは毎日、カイトに会っていた。「これは異常です」 リョウは医療チームのリーダーである如月医師に訴えた。「契約では月に一度だったはずです。それが毎日なんて」「氷堂センチネルの能力が不安定化しているのです」 如月医師は冷静に答えた。「彼のような高位センチネルは、常に能力の暴走リスクを抱えています。あなたの調整なしでは、彼は社会生活を送